Oleh
: Areej Yuyun Nurani
Pagi ini Rahel bangun lebih pagi dari biasanya, dia
membuka jendela kamar. Rasa dingin menusuk kulitnya, ya pagi ini memang dingin,
karena hujan turun membasahi bumi. Rahel termangu menatap rintikan hujan yang jatuh
dari langit. Dia mencoba memejamkan mata, merasakan tiap tetesan hujan yang
turun, begitu besar nikmat Tuhan, ucapnya dalam hati. Dalam keheningan pagi
ini, dia teringat masalah yang sedang dihadapinya, tentang Reza, cowok yang
sangat dia cintai, namun sudah hampir dua Minggu, Reza hilang seperti ditelan
bumi. Tanpa disadari air mengalir dari mata sipit Rahel, dadanya terasa sesak
mengingat kenangan indah bersama Reza. Lamunan itu tiba-tiba terpecah oleh
suara lembut seorang wanita yang memanggilnya. Wanita tersebut tidak lain
adalah Ibunya. Rahel pun menengok ke jam dinding di kamarnya, waktu menunjukkan
pukul enam pagi. Bergegas dia terbangun dan meninggalkan lamunannya. Hari ini
adalah hari Minggu, Rahel sudah punya janji dengan Nita sahabatnya yang baru
datang dari Bandung untuk memutari kota Jogja.
Selesai
berkemas-kemas, Rahel dan Nita pergi memutari Jogja dengan Elza, motor
kesayangan Rahel.
“Ayo Elza, kita berkeliling Jogja
hari ini” ucap Rahel.
“Kamu lupa nama aku apa hel, aku
Nita bukan Elza” kata Nita dengan wajah cemberut.
“Elza itu nama motorku ini, Elza..
Rahel Reza,, keren kaann” jawab Rahel dengan sumringah.
“Dasar alay kamu, yuk berangkat.”
Omel Nita.
Mereka
berduapun mulai muterin kota Jogja. Rahel mengenalkan tempat-tempat yang terkenal
di kota pelajar ini. Tak terasa hari sudah mulai gelap, Rahel dan Nita
memutuskan untuk pulang dahulu. Pukul tujuh malam, Rahel dan Nita pergi ke
angringan di Malioboro. Di sana telah menuggu Andi, Rani, Silva, dan Miko.
Mereka adalah sahabat Rahel di kampus. Ditengah-tengah senda gurau itu,
terlihat Rahel yang hanya terdiam dan melamun.
“Dooorrrr” teriak Andi, Rani,
Silva, Miko, dan Nita. Teriakan mereka mengagetkan lamunan Rahel.
“Hiiiss, kalian apa-apaan sih,
kaget tauu.” Kata Rahel
“Kamu kenapa sih hel, dari tadi
kita perhatiin diam aja, melamun terus. Masih mikirin cowok itu lagi, udahlah
hel lupain aja. Emank dia mikirin kamu. Kalo dia masih sayang sama kamu gak
mungkin kan ngilang gitu aja, gak ngabarin kamu. Apalagi dia jalan sama cewek
lain, eh keceplosan.” Cerocos Rani
Andi, Silva, Miko, dan Nita yang
tidak begitu tau permasalahan sahabat kecilnya itu melirik kearah Rani, sambil
memberikan kode.
“Maksud kamu apa Rani, kalian tau
sesuatu. Ayolah cerita sama aku.” Bujuk Rahel
Andi, Rani, Silva, dan Miko memang
merahasiakan apa yang mereka lihat empat hari yang lalu tentang Reza pacar dari
Rahel. Karena kecerewetan Rani, akhirnya rahasia itu terbongkar. Akhirnya Silva
menceritakan apa yang mereka lihat.
“Begini ceritanya hel, empat hari
yang lalu kita sempat ngajakin kamu liburan ke pantai kan. Tapi kamu gak mau,
katanya gak enak badan. Nah di pantai, kita liat Reza sama cewek. Bukan Cuma
aku yang semata-mata liat, tapi Andi, Rani, dan Miko pun liat kok. Kita emank
sengaja merahasiakan ini dari kamu, kita gak mau kamu sedih.” Cerita Silva
“Palingan Reza pergi sama
saudaranya, dia kan setia.” Ucap Rahel
“Kita si emank gak tau dia itu
siapa hel, tapi menurut aku sebagai laki-laki, gak mungkin banget itu
saudaranya. Gak mungkin semesra itu sama saudara.” Kata Andi
***
Di
kamar, Rahel terus memikirkan apa yang dikatakan sahabat-sahabatnya tadi. Dia
masih belum percaya apa yang didengarnya tadi. Dia meyakinkan hatinya, bahwa
Reza gak mungkin menghianati dia. “Aku mencintai Reza, begitupun sebaliknya”, ucapnya
dalam hati. Tapi tiba-tiba dia merasa ragu, terutama dengan menghilangnya Reza.
Rahel terus mengingat-ingat kenangan bersama Reza, mengingat janji manis yang
Reza ucapkan, diawal hubungan mereka. Tak kuasa Rahel menahan sesak didadanya,
tetes demi tetes air keluar dari mata sipitnya. Berkali-kali dia berusaha
menghubungi Reza, namun hasilnya nihil. Beberapa hari yang lalu Rahel datang ke
kos Reza, namun kata teman-temannya Reza sudah pindah dari situ, dan mereka
tidak tau kemana Reza pindah. Bahkan sampai Rahel datang ke kampus Reza. Semua
usaha telah Rahel lakukan, namun tetap saja hasilnya nihil. Air matanyapun
semakin deras keluar, tanpa sadar Rahelpun tertidur.
Matahari
telah datang bersama sinar hangatnya yang masuk melalui celah-celah ventilasi
kamar Rahel, sinar yang hangat membangunkan Rahel dari tidurnya. Enggan rasanya
untuk bangkit, apalagi untuk berangkat ke kampus. “Rumah terasa sepi, Nita udah
balik ke Bandung semalam, Ayah masih di luar kota, dan Bunda, kenapa gak
bangunin aku pagi ini?” ucap Rahel
Rahel
menemukan secarik kertas di meja kamarnya, ternyata itu pesan dari bundanya.
Bahwa bundanya pergi ke rumah tante di Magelang. Dengan langkah berat, Rahel
turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Ketika selesai dandan, tiba-tiba terdengar
bunyi bel. Rahel bergegas membukakan pintu. Didapatinya seorang laki-laki
bertubuh tegap, dengan senyum yang tak asing lagi, Rahel sangat terkejut, bahwa
yang sedang berdiri dihadapannya tidak lain dan tidak bukan adalah Reza. Dengan
wajah bengongnya, dia mencoba mencubit tangannya sendiri. Dia berusaha
meyakinkan, bahwa ini bukan mimpi. Yaa,, ini nyata. Perasaan Rahel semakin tak
menentu, antara bahagia, sedih, bingung. Ingin rasanya dia menangis, tapi dia
menahannya. Reflek dia memeluk Reza, namun alangkah terkejutnya ketika Reza
melepaskan pelukan itu. Dalam hatinya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya
terjadi, kenapa Reza melepaskan pelukan itu, kenapa Reza tak seperti biasanya,
kenapa dia berubah. Pertanyaan itu yang terus berputar-putar dipikirannya.
“Aku gak bisa lama-lama di sini,
sebelumnya aku minta maaf aku udah tiba-tiba menghilang, makasih buat semuanya.
Kamu baik hel, tapi maaf aku bukan orang yang baik buat kamu. Kamu pasti dapet
yang lebih baik dari aku. Aku cuma mau kasih ini buat kamu, undangan pernikahan
ku.” Ucap Reza
Diberikannya
sebuah undangan kepada Rahel. Dipeluknya Rahel, dikecupnya kening Rahel.
Kemudian Reza pergi menjauh dari Rahel. Hatinya tak menentu, ketika Reza
memberikan undangan itu, memeluk dan mencium keningnya. Rahel tak bisa berkata
sepatah katapun, mulutnya seolah terkunci, badannya dingin, tangannya gemetar,
pandangan matanya kosong. Hanya air mata yang mampu mengungkapkan apa yang dia
rasa, ketika punggung Reza semakin menjauh, samar-samar dan akhirnya menghilang.
