Kado Terindah
Oleh
: Areej Yuyun Nurani
Di
pagi yang tak cerah biasanya, Salsa berjalan menyusuri ramainya ibukota menuju
sekolahnya. Salsa anak dari pengusaha kaya raya yang cantik, pintar, dan tidak
sombong, akan tetapi dia tidak pernah menunjukkan kalau dia adalah orang kaya.
Dia lebih suka berangkat sekolah jalan kaki atau naik angkutan umum, dibanding
harus diantar dengan mobil mewah milik orang tuanya. Orang tua Salsa juga tak
keberatan akan sikap Salsa, justru mereka bangga dengan Salsa, karena dia
mandiri. Selangkah demi selangkah ia berjalan, dan akhirnya dia sampai di pintu
gerbang bertuliskan SMA Nusantara. Dia terus berjalan menuju ruang kelasnya.
Sesampainya di kelas, dia menyapa Wulan.
“Hei ngelamun aja sih kamu, nanti
ayam tetangga mati loh, kan kasihan.” Salsa menggoda Wulan dengan gaya
renyahnya.
“ahh kamu Sa, selalu aja ngagetin
aku tiap pagi, brisiiikk tau.”
“ke taman yuk?” ajak Salsa
Seperti
pagi-pagi biasanya, sebelum pelajaran jam pertama dimulai, Salsa selalu pergi
ketaman belakang sekolah. Dia mendapatkan ketenangan di sana. Namun tidak di
pagi ini, entah kenapa Wulan merasa ada yang beda dari senyum sahabatnya itu.
Ceria, tapi tak seceria biasanya.
“Kamu kenapa Sa, seperti ada yang
beda hari ini?” cetus Wulan
“hahaa, beda apanya, jelas-jelas
aku masih ceria gini.” Jawab Salsa sambil ngacak-ngacak rambut Wulan
“Aku sahabat kamu dari dulu kali
Sa, aku tau banget lah kamu. Lagi ada masalah ya? Cowok? atau apa?” cerocos
Wulan
“Cowok, ngapain mikirin cowok lan,
sekolah yang bener dulu kali.” jawab Salsa dengan ringannya
Hampir
semua siswa SMA Nusantara mengenal Salsa, karena dia ramah, cantik, juga
pintar. Banyak cowok mengejar-ngejar dia, tapi entah kenapa Salsa tak pernah
memperdulikan mereka. Salah satu cowok yang suka sama Salsa adalah Omo, Omo
sangat menyayangi Salsa dari SMP. Mereka berdua akrab dan dekat, tapi Salsa
hanya menganggap Omo sebagai temannya saja.
Bel
sekolah tanda masuk berbunyi, Salsa dan Wulan pun kembali ke kelas mereka.
Pelajaran pertama diawali dengan pelajaran Matematika. Salsa sangat semangat
mengikuti pelajaran tersebut karena merupakan pelajaran favoritnya. Jam tanda
pulang sekolahpun berbunyi. Omo tiba-tiba datang ke kelas Salsa.
“Hai Sa, pulang bareng yuk?” ajak
Omo
“Enggak lah Mo, aku jalan kaki
aja.” Jawab Salsa
“Kebetulan kalau gitu, aku juga gak
bawa motor, motorku tadi pagi mogok, terus aku bawa ke bengkel deket rumahmu.
Bisa bareng kan sa, kan searah.” Senyum Omo dengan semringahnya.
“Maksa banget sih kamu Mo, yaudah lah yuk”.
Jawab Salsa
Sepanjang
jalan, mereka berdua asik ngobrol dan bercanda. Orang-orang yang melihatnyapun
mengira kalo mereka pacaran. Sampai di bengkel Omo mengambil motornya dan
menawarkan mengantar pulang Salsa.
“Aku antar ya Sa?” ajak Omo.
“Enggak usah Mo, rumahku kan udah
deket.” Jawab Salsa
“Bener gak mau aku antar?” Tanya
Omo.
“Iya gak usah, makasih, aku pulang
duluan ya?” Salsa menjawab dengan senyum manisnya.
Kemudian
Salsa pergi meninggalkan Omo. Namun, Omo melihat dari kejauhan, dia memastikan
kalau Salsa selamat sampai rumah. Begitu besar rasa sayang Omo kepada Salsa,
meskipun Salsa tidak pernah menganggap dia lebih dari teman, tapi hal tersebut
tidak menjadikan Omo untuk mundur, dia terus menunjukkan bukti perhatiannya
kepada Salma.
Sudah
beberapa hari Salsa tidak menjumpai sosok yang sering mengusilinya di sekolah.
Salsa bertanya kepada teman-teman sekelas Omo. Kata mereka Omo sedang ada
urusan keluarga di Bali. Pulang sekolah Salsa tidak langsung pulang ke rumah,
tapi dia duduk-duduk di taman belakang sekolahnya. Wulan yang melihat
sahabatnya duduk sendiri pun menghampirinya.
“Sa, belum pulang? Kamu kenapa? Aku
perhatikan dari tadi pagi kamu murung, gak seperti biasanya, kalo ada masalah
cerita aja ke aku. Itu juga kalo kamu masih anggap aku sebagai sahabat sih.”
Tanya Wulan.
“Sudah beberapa hari ini Omo gak
masuk sekolah Lan, aku telpon dia tapi gak aktif. Tanya teman-teman sekelasnya,
kata mereka Omo ada urusan keluarga di Bali. Bukan Omo banget kalo dia gak
ngasih kabar ke aku, kalo ada apa-apa dia kan selalu cerita. Sampai kucing
kesayangan adiknya mati aja cerita ke aku. Lah sekarang, sama sekali Omo gak
ngasih kabar ke aku, kalau hanya urusan keluarga kenapa nomer sampai gak
diaktifin segala coba.” Cerocos Salma
“Mungkin emank dia lagi sibuk Sa,
santai aja. Kamu kok khawatir banget Sa, sampai uring-uringan gini.
Jangan-jangan kamu suka sama Omo, hayo ngaku.” Goda Wulan kepada Salsa
“Enak aja kamu, aku gak mirikin
cowok kali Lan, cuma heran aja aku sama Omo. Tumben-tumbenan dia gini. Lagian
dua hari lagi aku kan ulang tahun ke 17, aku berharap kamu sama Omo datang,
cuma syukuran di rumah bareng ayah, bunda, sama aku. Perasaan aku gak enak Lan”
“Tenang aja Sa, pasti nanti Omo
sama aku dateng kok.” Wulan berusaha nenangin Salsa.
Hari
ini usia Salsa genap 17 tahun. Namun, sama sekali tak ada kabar dari Omo. Ayah,
bunda, dan Wulan sudah menunggu Salsa di samping rumahnya, akan tetapi Salsa
masih menunggu Omo di depan pintu.
“Salsa, buruan yuk dimulai
acaranya.” Ucap Bunda
“Bentar lagi bunda, Omo belum
datang.” Jawab Salsa
“Nunggunya di dalam aja yuk.” Bujuk
bunda
“Baik bunda.”
Di
samping rumah, mereka duduk menunggu Omo, namun dia tak kunjung menampakkan
batang hidungnya. Di tengah-tengah keheningan, tiba-tiba terdengar bunyi bel.
Salsa bergegas membukakan pintu rumahnya, berharap Omo yang datang. Namun,
ternyata yang datang adalah anak kecil, dia membawa kotak ditangannya. Ternyata
dia adalah Rendi adik dari Omo.
“Kak Salsa ya? Aku Rendi kak,
adiknya kak Omo, dia nitipin ini sama aku sebelum dia pergi.” Memberikan kotak
ditangannya
“Kak Omo pergi kemana dek?” Tanya
Salsa
“Kak Omo udah pergi ninggalin kita
kak, dia sakit parah, tapi dia gak pernah mau terlihat lemah. Dia banyak cerita
tentang kakak, dia sangat menyayangi kakak sejak pertama kali bertemu.” Jawab
Randi
Sontak
Salsa terdiam dan beriringan dengan itu ayah, bunda, dan Wulan menghampiri
Salsa. Salsa perlahan membuka isi dari kotak tersebut, terdapat recorder dan
sebuah jam tangan cantik yang didambakan Salsa sejak lama. Kemudian Salsa
dengan tangan yang gemetar memutar recorder tersebut yang isinya adalah rekaman
suara dari Omo, yang isinya suara Omo menyanyikan lagu selamat ulang tahun buat
Salsa. Disertai dengan ucapan perasaannya terhadap Salsa. Tak kuasa Salsa
membendung air matanya, dia menangis sambil memeluk Randi. Kepergian Omo
membuat Salsa sadar, bahwa ternyata dia menyayangi Omo.
