Minggu, 13 Januari
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sejalan dengan
pertumbuhan dan perkembangan anak, produk bahasa mereka juga meningkat dalam
kuantitas, keluasan dan kerumitan. Anak-anak secara bertahap berubah
dari melakukan ekspresi menjadi melakukan ekspresi dengan
berkomunikasi, yang juga berubah dari komunikasi melalui gerakan menjadi
ujaran. Anak usia dini biasanya telah mampu mengembangka keterampilan berbicara
melaalui percakapan yang dapat memikat orang lain. Mereka dapat menggunakan
bahasa dengan berbagai cara seperti bertanya, berdialog dan bernyanyi. Sejak
usia 2 tahun anak menunjukkan minat untuk menyebut nama benda. Minat
tersebut terus berkembang sejalan dengan bertambah usia dan menunjukkan
bertambah pula perbendaharaan kata. Dengan perbendaharaan kata yang di milki
anak mampu berkomunikasi dengan lingkungannya yang lebih luas. Anak dapat
menggunakan bahasa dengan ungkapan yang lebih kaya ungkapen melalui bermain
peran.
B. Rumusan masalah
1. Apa yang di maksud dengan perkembangan bahasa anak?
2. Apa yang di maksud dengan pengembangan bahasa
lisan anak usia dini?
3. Apa-apa saja aspek perkembangan bahasa anak usia dini?
4. Apa-apa saja prinsip perkembangan bahasa anak usia dini?
5. Apa-apa saja Karakteristik kemampuan bahasa anak usia dini?
6. Apa-apa saja Keterkaitan kemampuan kognitif bahasa dengan kemampuan
bahasa?
7. Apa saja Proses perkembangan bahasa anak usia dini?
8. Bagaimana Implikasi perkembangan bahasa dalam proses pembelajaran efektif di
taman kanak-kanak?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang perkembangan bahasa
anak
2. Untuk mengetahui tentang pengembangan bahasa
lisan anak usia dini
3. Untuk mengetahui tentang aspek perkembangan
bahasa anak usia dini perkembangan bahasa anak usia dini
4. Untuk mengetahui tentang prinsip perkembangan bahasa anak usia dini
5. Untuk mengetahui Karakteristik kemampuan bahasa
anak usia dini?
6. Untuk mengetahui tentang Keterkaitan kemampuan
kognitif bahasa dengan kemampuan bahasa
7. Untuk mengetahui tentang Proses perkembangan bahasa anak usia dini
8. Untuk mengetahui bagaimana Implikasi
perkembangan bahasa dalam proses pembelajaran efektif di taman kanak-kanak
BAB II
ISI
A. Perkembangan bahasa anak
Perkembangan bahasa
sebagai salah satu dari kemampuan daar yang harus dimiliki anak, sesuai dengan
tahapan usia dan karakteristik perkembangannya. Perkembangan adalah suatu
perubahan yang berlangsung seumur hidup dan dipengaruhi oleh berbagai factor
yang saling berinteraksi seperti biologis, kognitif, dan sosio-emosional.
Bahasa adalah suatu system symbol untuk berkomunikasi yang meliputi fonologi
(unit suara), morfologi (unit arti), sintaksis (tata bahasa), semantic (variasi
arti), dan pragmatic (penggunaan) bahasa. Dengan bahasa, anak dapat
mengkomunikasikan maksud, tujuan, pemikiran, maupun perasaannya pada orang
lain.
Anak usia dini,
khususnya usia 4-5 tahun dapat mengembangkan kosa kata secara mengagumkan.
Owens (dalam Rita Kurnia, 2009:37) mengemukakan bahwa “anak usia tersebut
memperkaya kosa katanya melalui pengulangan”. Mereka sering mengulangi kosa
kata yang baru dan unik sekalipun belum memahami artinya. Dalam mengembangkan
kosa kata tersebut, anak menggunakan fast wrapping yaitu suatu proses dimana
anak menyerap arti kata baru setelah mendengarnya sekali atau dua kali dalam
dialog. Pada masa dini inilah anak mulai mengkombinasikan suku kata menjadi
kata, dan kata menjadi kalimat.
Anak usia 4-5 tahun
rata-rata dapat menggunakan 900-1000 kosa kata yang berbeda. Mereka menggunakan
4-5 kata dalam satu kalimat yang
dapat berbentuk kalimat pernyataan, negative, Tanya, dan perintah. Anak usia 4
tahun sudah mulai menggunakan kalimat yang beralasan seperti “saya menangis
karena sakit”. Pada usia 5 tahun pembicaraan merka mulai berkembang dimana kosa
kata yang digunakan lebih banyak dan rumit.
Berpartisipasi dalam komunikasi bahasa seperti dalam
penciptaan teks, baik lisan maupun tulisan. Haliday dan Hasan (dalam Rita
Kurnia, 2009:38) mendefinisikan “teks sebagai wacana, lisan maupun tulisan,
seberapapun panjangnya, yang membentuk satu kesatuan yang utuh”. Hymess (dalam
Rita Kurnia, 2009:38) menyebut “kemampuan berkomunikasi, yang berarti menciptakan
wacana, sebagai communicative competence.” Dengan demikian, kurikulum yang
mengklaim sebagai berbasis kompetensi. Sejauh ini dapat dikatakan bahwa
kurikulum 2004 berbeda dengan kurikulum pendahulunya dalam dua hal yang
mendasar. Pertama, kurikulum ini didasarkan kepada rumusan kompetensi
komunikatif yang didefinisikan sebagai kompetensi wacana tersebut digunakan
pendekatan (pendidikan) literasi.
Perkembangan berbicara
dan menulis merupakan suatu proses yang menggunakan bahasa ekspresif dalam
membentuk arti.kajian tentang perkembangan berbicara pada anak tidak terlepas
dari kenyatan adanya perbedaan kecepatan dalam berbicara, maupun kualitas dan
kuantitas anak dalam menghasilkan bahasa. Anak yang satu lebih cepat, lebih
luwes, lebih rumit, dalam mengungkapkan bahasanya, ataupun lebih lambat dari
yang lain. Kajian tentang perkembangan menulis pada anak berkaitan dengan suatu
proses yang dilakukan anak sehingga menghasilkan bentuk tulisan.
Perkembangan berbicara
pada anak berawal dari anak menggumam maupun membeo, sedangkan perkembangan
menulis pada anak berawal dari kegiatan mencoret-coret sebagai hasil ekspresi
mereka. Dyson (dalam Rita Kurnia, 2009:39) berpendapat bahwa “perkembangan
berbicara memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan menuykis pada
anak”. Anak memiliki kemampuan menulis dipengaruhi oleh kemampuan sebelumnya
(dalam hal ini kemampuan berbicara) sehingga dapat dituangkan dalam bentuk
tulisan.
Dalam berbicara
terkadang individu dapat menyesuaikan dengan keinginannya sendiri. Hal ini tidak
sama dengan menulis, dimana diperlukan suatu aturan berbahasa yang baik, benar
dan tertib. Dengan kata lain dalam menulis diperlukan adanya keserasian antara
pikiran dan tatanan dalam berbahasa yang tepat dalam mengekspresikan gagasan yang tertuang dalam lambang-lambang
bahasa tulisan.
B. Pengembangan bahasa lisan
Anak “mempelajari” bahasa dengan berbagai cara, yakni meniru, menyimak,
mengekspresikan, dan juga bermain. Melalui bermain, anak dapat belajar
menggunakan bahasa secara tepat dan belajar mengkomunikasikannya secara efektif
dengan orang lain. Melalui bermain anak juga belajar tentang daya bahasa.
Banyak ungkapan yang
di kemukakan untuk menggambarkan bagaiman pentingnya bahasa bagi manusia.
Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia umumnya dan dalam kegiatan berkomunikasi khususnya.
Seperti di kemukakan oleh Laird bahwa tiada kemanusiaan tanpa bahasa dan tidak
ada peradaban tanpa bahasa lisan. Manusia tidak berfikir hanya dengan otaknya,
tetapi juga memerlukan bahasa sebagai mediunya. Orang lain tidak akan dapat
memahami hasil pemikiran kita kalau tidak di ungkapkan dengan menggunakan
bahasa baik secara lisan maupun tulisan.
Begitu juga halnya
peranan bahasa bagi anak. Bahasa memberiakan sumbangan yang pesat dalam
perkembangan anak menjdi manusia dewasa. Dengan bantuan bahasa, anak tumbuh
dari organism biologis menjadi pribadi dalam kelompok. Pribadi itu berfikir,
berperasaan, bersikap, berbuat serta memandang dunia dan kehidupan seperti masyarakat di sekitarnya. Sehubungan dengan
peranan penting bahasa dalam kehidupan.
Haliday(dalam Rita
Kurnia, 2009:68) mengemukakan
“beberapa fungsi bahasa bagi anak,
fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Fungsi instrumental; bahasa di gunakan sebagai alat perpanjangan tangan”tolong
ambilkan pensil’’.
2. Fungsi regulative; bahasa di gunakan untuk
mengatur orang lain” jangan ambil buku ku!”
3. Fungsi interaksional; bahasa di gunakan untuk bersosialisasi “
apa kabar?”
4. Fungsi personal; bahasa di gunakan untuk mengungkapkan
perasaan, pendapat, dan sebagainya. “saya senamg sekali!”
5. Fungsi heuristic / mencari informasi; bahasa di gunakan untuk
bertanya. “Apa itu?”
6. Fungsi imajinatif; bahasa digunakan untuk memperoleh kesenangan,
misalnya, bermain-main dengan bunyi, irama.
7. Fungsi representative; bahasa di gunakan untuk memberikan informasi atau
fakta. “sekarang hujan”.
Bahasa merupakan
sarana yang paling penting dalam komunikasi manusia. Bahasa bersifat unik
sekaligus bersifat universal bagi manusia. Dalam kenyataan kegiatan sehari-hari
kita amati bahwa hanya manusialah yang mampu menggunakan komunikasi verbal dan
kita amati pula bahwa manusia mampu mempelajarinya. Inilah yang menyebabkan
tingkah laku manusia secar esensial berbeda dengan tingkah laku hewan. Tingkah
laku bahasa adalah satu diantara bentuk yang paling member pada tingkah laku
insani. Tingkah insane ini tergambar dengan suasana adanya pengiriman dan
penerima. Penerima bias dalam bentuk pendengar atau pembaca. Jadi, keterampilan
yang harus di miliki anank mencakup 4 keterampilan berbahasa yaitu menyimak
atau mendengarkan, berbicara, menulis, dan membaca.
Keterampilan berbahasa
tidak di kuasai dengan sendirinya oleh anak. Akan tetapi, keterampilan
berbahasa akan di peroleh melalui proses pembelajaran atau memerlukan upaya
pengembangan.
C. Aspek-aspek perkembangan bahasa
anak usia taman kanak-kanak
Anak usia taman kanak-kanak berada dalam fase perkembangan bahasa secara ekspresif.
Hal ini berarti bahwa anak telah dapat mengungkapkan keinginananya,
penolakannya, maupun pendapatnya dengan menggunakan bahasa lisan. Bahasa lisan
sudah dapat di gunakan anak sebagai alat berkomunikasi. Aspek-aspek yang
berkaitan dengan perkembangan bahasa anak tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kosa kata
Seiring
dengan perkembangan anak dan pengalamannya berinteraksi
dengan lingkungannya, kosa kata anak berkembang dengan pesat.
2.
Sintaksis (tata bahasa)
Walaupun
anak belum mempelajari tata bahasa, akan tetapi melalui contoh-contoh berbahasa
yang di dengar dan di lihat anak di lingkungannya, anak telah dapat menggunakan
bahasa lisan dengan susunana kalimat yang baik. Misalnya: “Rita memberi makan
kucing” bukan “kucing Rita makan memberi”.
3. Semantik
Semantik
maksudnya penggunaan kata sesuai dengan tujuannya.
Anak di taman kanak-kanak sudah dapat mengekspresikan keinginan, penolakan dan
pendapatnya dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang tepat. Misalnya:
“tidak mau” untuk menyatakan penolakan.
4. Fonem (satuan bunyi terkecil yang membedakan kata)
Anak di
taman kanak-kanak sudah memilki kemampuan untuk merangkaikan bunyi yang di
dengarnya menjadi satu kata yang mengabdung arti. Misalnya: i.b.umenjadi ibu.
D. Prinsip perkembangan bahasa anak usia taman kanak-kanak
Sesuai dengan pendapat
Vigotsky tentang prinsip zone of proximal yaitu zona yang
berkaitan dengan perubahab dari potensi yang di miliki oleh anak menjadi
kemampuan aktual, maka prinsip-prinsip perkembangan bahsa anak usia taman
kanak-kanak adalah sebagai berikut:
1. Interaksi
Interaksi anak dengan
lingkungan sekitarnya, membantu anak memperluas kosa katanya dan memperoleh
contoh dalam menggunakan kosa kata
tersebut secara tepat.
2. Ekspresi
Mengekspresikan
kemampuan bahasa. Ekspresi kemampuan bahasa anak dapat di salurkan melalui
pemberian kesempatan pada anak
untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara tepat.
E. Karakteristik kemampuan bahasa anak usia taman
kanak-kanak
1. Karakteristik kemampuan bahsa anak usia 4 tahun
a. Terjadi perkembangan yang cepat dalam kemampuan bahsa anak. Ia telah
dapat menggunakan kalimat dengan baik dan benar.
b. Telah menguasai 90% dari fonem dan sintaksis bahasa yang di gunakannya.
c. Dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan.
Anak sudah dapat mendengarkan orang lain berbicara dan menanggapi pembicaraan
tersebut.
2. Karakteristik kemampuan bahasa anak usia 5-6 tahun
a. Sudah dapat mengucapkan lebih dari 2500 kosa kata
b. Lingkup
kosa kata yang dapat di ucapkan anak menyangkut: warna, ukuran, bentuk, rasa,
bau, keindahan, kecepatan, suhu, perbedaan, perbandingan, jarak, permukaan (kasar halus)
c. Anak usia 5-6 tahun sudah dapat melakukan peran
sebagai pendengar yang baik.
d. Dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan. Anak sudah dapat
mendengarkan orang lain berbicara dan menanggapi pembicaraan tersebut.
e. Percakapan yang di lakukan oleh anak usia 5-6
tahun telah menyangkut berbagai komentarnya terhadap apa yang di lakukan oleh
dirinya sendiri dan orang lain, serta apa yang di lihatnya. Anak pada usia 5-6 tahun sudah dapat melakukan ekspresi
diri,menulis, membaca dan bahkan berpuisi.
F. Keterkaitan kemampuan kognitif bahasa dengan kemampuan bahasa.
Menurut pandangan
Piaget dan Vygotsky(dalam Martini Jamaris,2006:33) “perkembangan bahasa
berhubungan dengan perkembangan kognitif”. Hal ini dapat di lihat dari
kemampuan bahasa anak usia 3-5 tahun. Berdasarkan fase perkembangan kognitif
yang di kemukakan oleh Piaget, anak tersebut berada dalam fase praoperasional.
Pada fase ini, fungsi simbolis anak berkembang dengan pesat. Fungsi simbolis
berkaitan dengan kemampuan anak untuk membayangkan tantang sesuatu benda atu
objek lainnya secara mental, atau tanpa kehadiran benda atau objek secara
konkret. Oleh sebab itu, perkembangan bahasa anak pada fase ini juga di warnai
oleh fungsi simbolis.
G. Proses perkembangan bahasa
Vygotsky (dalam
Martini Jamaris, 2006:34) mengemukakan bahwa “ada dua alasan yang menyebabkan
perkembangan bahasa berkaitan dengan perkembangan kognitif,
Pertama, anak harus menggunakan bahasa untuk berkomunikasi atau berbicara
den gan
orang lain. Kemampuan ini di sebut dengan kemampuan bahasa secara eksternal dan
menjadi dasar bagi kemampuan berkomunikasi kepada diri sendiri.
Pengaruh orang dewasa sangat
penting dalam mengembangkan kemampuan bahasa anak secara eksternal. Orang
dewasa memperkaya kosa kata anak. Ia memberikan contoh tentang cara-cara
berkomunikasi dengan bahasa yang baik dan benar.
Kedua, transisi dari kemampuan berkomunikasi secara eksternal kepada
kemampuan berkomunikasi secara internal membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Transisi ini terjadi pada fase praoperasional, yaitu pada usia 2-7 tahun.
Selama masa ini, berbicara pada diri sendiri merupakan bagian dari kehidupan
anak. Ia akan berbicara dengan berbagai topik dan tentang berbagai hal,
melompat dari satu topik ke topik lainya. Pada saat ini anak sangat enag
bermain bahasa dan bernyanyi. Pada usia 4-5 tahun, anak sudah dapat berbicara
dengan bahasa yang baik, hanya sedikit kesalahan ucapan yang di lakukan anak
pada masa ini.
Ketiga, pada
perkembangan selanjutnya anak akan bertindak tanpa berbicara. Apabila hal ini
terjadi, maka anak telah mampu menginternalisasi percakapan egosentris (berdasarkan sudut pandang sendiri) ke dalam percakapan
di dalam dri sendiri”.
Anak yang banyak
melakukan kegiatan berbicar pada diri sendiri, yang di lanjutkan berbicara
dalam diri sendiri lebih memiliki kemampuan sosial daripada anak yang pada fase
praoperasional kurang melakukan
kegiatan tersebut.
H. Implikasi perkembangan bahasa dalam proses pembelajaran efektif di taman
kanak-kanak
a. Menciptakan situasi yang memberikan kesempatan
pada anak untuk mengembangkan kemampuan bahasanya. Kesempatan ini dapat di lakukan melalui kegiatan bercakap-cakap,
bercerita, bertanya dan menjawab pertanyaan.
b. Menyediakan saran pebdukung perkembangan bahasa
anak. Misalnya, menyediakan alat permainan yang menstimulasi perkembangan
bahasa anak.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bahasa merupakan
sarana yang paling penting dalam komunikasi manusia. Bahasa bersifat unik
sekaligus bersifat universal bagi manusia. Dalam kenyataan kegiatan sehari-hari
kita amati bahwa hanya manusialah yang mampu menggunakan komunikasi verbal dan
kita amati pula bahwa manusia mampu mempelajarinya. Inilah yang menyebabkan
tingkah laku manusia secar esensial berbeda dengan tingkah laku hewan. Tingkah
laku bahasa adalah satu diantara bentuk yang paling member pada tingkah laku
insani. Tingkah insane ini tergambar dengan suasana adanya pengiriman dan
penerima. Penerima bias dalam bentuk pendengar atau pembaca. Jadi, keterampilan
yang harus di miliki anank mencakup 4 keterampilan berbahasa yaitu menyimak
atau mendengarkan, berbicara, menulis, dan membaca.
Keterampilan berbahasa
tidak di kuasai dengan sendirinya oleh anak. Akan tetapi, keterampilan
berbahasa akan di peroleh melalui proses pembelajaran atau memerlukan upaya pengembangan.
B. Saran
Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi kita pembaca, terutama bagi kita calon pendidik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Rita kurnia. 2009. Metodologi pengembangan
bahasa anak usia dini. Cendikia insani. Pekanbaru.
2. Martini Jamaris.
2006. Perkembangan dan pengembangan anak usia taman kanak-kanak.Grasindo.
Jakarta.
3. Wilson.
2009. Konsep dasar pendidikan anak usia dini. FKIP UNRI. Pekanbaru.
